Alwin Kasim

now browsing by tag

 
 

Ukuran Antropometri Wajah Dan Kepala Sebagai Acuan Nilai Normal Untuk Evaluasi Penderita Celah Bibir Dan Langit-Langit

Pengukuran Pada  Ras Mongoloid Sub  Ras Deuteromelayu Di Kabupaten Bandung

 Asri Arumsari, Sunardi Mangundjaja, Alwin  Kasim
 Bagian Bedah Mulut  FKG UNPAD/Perjan RS. Dr.Hasan Sadikin Bandung
Disampaikan pada Kongres Nasional PABMI IX – 2004, Bandung, 15-17 Januari 2004

ABSTRAK

 Penelitian ini  bertujuan untuk menentukan nilai  normal antropometri wajah  dan kepala yang  berhubungan dengan penderita celah  wajah  terutama celah bibir dan langit­ langit,   orang  Indonesia,  ras   Mongoloid   sub ras   Deuteromelayu.  Nilai  normal  yang didapat dari  penelitian ini  dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam perencanaan tindakan operasi dan sebagai dasar dalam penilaian hasil operasi. Pada  pasien celah bibir   dan    langit-langit, sering terjadi deformitas sekunder.  Untuk  menilai derajat keparahan  sebagai  bagian dari   perencanaan operasi rekonstruksi,  nilai  normal yang berasal dari sampel dengan umur, kelamin dan  ras,  kalau memungkinkan juga  etnis yang   sama  akan  sangat  membantu.  Penelitian dilakukan  di   Kabupaten  Bandung, kecamatan Soreang, Bojongsoang, Lembang dan  Padalarang, terhadap 88  anak laki-laki dan   perempuan yang   berumur 4  dan   5 tahun.  Pengukuran dilakukan terhadap 26 variabel pengukuran  dan  8  penghitungan indeks proporsi.  Hasil   penelitian menunjukkan  adanya  nilai   yang    bisa    dianggap sama  antara   nilai    laki-laki dan perempuan  pada   kelompok umur  4  tahun juga  antara nilai  laki-laki dan   perempuan kelompok umur   5  tahun.   Perbandingan  nilai    normal   ras    Mongoloid    sub  ras Deuteromelayu  (hasil  penelitian) dengan nilai  normal ras  Kaukasoid menunjukkan perbedaan. Hasil  penelitian menguatkan pendapat yang  menyatakan bahwa setiap ras mempunyai   nilai    normal   tersendiri   sebagai  karakter   masing-masing   ras    yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan  lingkungan.

 Kata kunci: antropometri, nilai  normal, celah  bibir dan langit-langit.

 ABSTRACT

 The purpose of the study was  to obtain a normal value and  proportion index of head and  face which can be use for Deuteromelayu Indonesian cleft face patients especially cleft lip  and   palate  patients. The  normal  value  and   proportion  index are  the  references  for planning  and  evaluation of the  operations. Deformities  after  surgery often observed, even following  corrective  surgery.  The  severity scales  of these deformities are  the  part of reconstructive   surgery planning. The  normal  value  from  the  same race,  age  and  sex  or ethnic if possible will be  a great contribution. The  study was  held  in Bandung suburb, at Soreang,  Bojongsoang, Lembang   and   Padalarang   district.   The  88   samples, male  and female of age  4  years  old and  5 years  old  were  measured for 26  measurement variables and  8-proportion index.  The  result was  considered  equal  for male and  female group from the  same  age,  at  4  years  old  group  and  also  for 5  years  old  group. The  comparator between  Deuteromelayu Mongolian and Caucasian were considered  different.  The result of this study strengthens the statement  that every race had their own  normal value as a part of their character, which is influenced  by genetic and environmental  factors.

 Key words: Anthropometry, normal value, cleft lip and palate.

PENDAHULUAN

Pada penderita celah bibir dan langit-langit terdapat variasi anomali yang diderita.Setiap anomali memerlukan pendekatan tersendiri. Klasifikasi untuk celah, seperti unilateral, bilateral, komplit serta inkomplit tidak dapat mencerminkan seluruh variasi yang ada, untuk itu diperlukan suatu analisa kualitatif yang menggambarkan defek serta disproporsi secara lebihdetail.

 Pengukuran antropometrik secara langsung dilakukan untuk mendapatkan datamengenai deformitas, dislokasi, serta keparahan defek jaringan lunak wajah. Karena kompleks nasolabial adalah area yang sangat sensitif secara estetik, maka pengukuran antropometrik dilakukan pada seluruh wajah.

 Nilai normal ukuran wajah berbeda pada setiap ras.I.2,3 Sehingga diperlukan suatu acuan nilainormal pada setiap ras dalam me-lakukan koreksi bedah pada penderitaCBL.

 Penelitian kuantitatif terhadap celah wajah telah didokumentasikan sejak setengah abad lalu. Penelitian yang direkomendasikan oleh Farkas tahun 1990 adalah penelitian untuk mendapatkan data kuantitatif minimal yang harus dimiliki sebelum operasi dan dapat memberikan informasi objektif mengenai tingkat kerusakan jaringan lunak.Datainijuga essensial untuk melakukanpenilaianobjektif hasil operasi. I.s,6

 Indeks Proporsi adalah indeks yang menguji kompleksi proses maturasi wajah dan merupakan indikator yang paling dipercaya untuk mengetahui kualitas estetik wajah, yang merupakan produk final kekuasaan alam yang diintervensi olehtindakan pembedahan.I

 Hasil pengukuran (dan/atau) proporsi pasien harus dibandingkan dengan nilai normal yang diambil dari populasi yang sama, umur, jenis kelamin, ras dan kalau memungkinkan etnis yang sama pula. Pasien dianggap abnormaljikahasilpengukuran atau indeksnya melebihi :t 2 SD.

 METODA PENELITIAN

 Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metoda acak terpilih (random purposive sampling). Populasi penelitian adalah orang Indonesia dari ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu yang memenuhi kriteria subjek penelitian.

 Populasi penelitian diambil dari penduduk wilayah Kabupaten Bandung di kecamatan Bojongsoang, Lembang, Padalarang dan Soreang berumur 4 dan 5 tahun yang sehat berdasarkan indeks yang didapat dari hasil pengukuran berat badan dibandingkan dengan umur. Subjek penelitian dianggap sehat bila titik temu antara umur dan berat badan dalam grafik Kartu Menuju Sehat (KMS) berada dalam daerah hijau, sebagai indikasi status anak berada dalam kisaran normal.

Pengukuran yang dilakukan:

  1. Ukuran panjang kepala (glabella- occipital).
  2. Ukuran lebar kepala (euryon-euryon).
  3. Ukuran lebar wajah (zygion-zygion).
  4. Ukuran panjang wajah (nasion­gnathion).
  5. Ukuran Iebar intercanthal (endochantion-endocanthion).
  6. Ulruran Iebar biocular (exocanthion­exocanthion).
  7. Ukuran Iebar hidung (alare-alare).
  8. Ukuran panjang hidung (nasion-subnasion).
  9. Ukuran  protusi ujung hidung (subnasale -pronasale).
  10. Ukuran lebar dasar hidung (maxillofrontale- maxillofrontale).
  11. Ukuran lebar insersi alar (alar curvature- alarcurvature).
  12. Ukuran lebar alar (subalare­subalare).
  13. Ukuran lebar dasar nostril (subalare­subnasale).
  14. Ukuran tinggi columella (subnasa ke ­titik teratas columella).
  15. lnklinasi nasalbridge.
  16. Inklinasi nasolabial.
  17. Ukuran tinggi bibir atas(subnasale­stomion).
  18. Ukuran tinggi dermis bibir atas/tinggi philtrum (subnasale-labiale superius).
  19. Ukuran tinggi bibir atas lateral (subalare- labiale superius).
  20. Ukuran tinggi vermillion bibir atas (labiale superius -stomion).
  21. Ukuran tinggi vermillion bibir bawah (stomion-labiale inferius).
  22. Ukuran  bibir bawah (stomion-sublabiale).
  23. Ukuran lebar mulut (chelion-chelion).
  24. Inklinasi bibir atas.
  25. Ukuran lebar telinga (preaurale­ postaurale).
  26. Ukuran tinggi telinga (superaurale­subaurale
Bojongsoang Soreang Padalarang Lembang Total
P – 4 tahun

6

4

7

5

22

L-4 tahun

5

4

4

6

19

P- 5 tahun

6

4

8

6

24

L- 5 tahun

7

5

8

4

24

Total

24

17

27

21

89

P: Perempuan, L: Laki-laki

Cara Pengukuran

Pertama-tama dilakukan penimbangan berat badan anak, kemudian ukuran berat badan tersebut dibandingkan dengan umur berdasarkan kartu menuju sehat. Bila berat badan berada dalam kisaran normal, kemudian dilakukan pengambilan data identitas. Bila memenuhi kriteria subjek penelitian maka dilakukan pengukuran wajah.

Subjek penelitian di duduk kandi kursi dengan patokan garis FHP (Frankfurt Horizontal Plane) sejajar lantai, karena pada posisi ini otot-otot berada dalam keseimbangan untuk menahan mandibula, posisi subjek diusahakan sesantai mungkin. Patokan titik referensi dibuat dengan pensil tinta yangtelah dibasahi. Pengukuran dilakukandari arah frontal dan lateral. Subjek tetap pada posisi, pergeseran posisi dilakukan oleh peneliti.

Pada saat pengukuran, subjek diusahakan untuk tidak menggerakkan kepalanya, kemudian dilakukan pengukuran dengan menggunakan kaliper geser, angle finder serta kaliper jangka.

 Perhitungan Indeks Proporsi

 Perhitungan Indeks Proporsi dilakukan dengan menggunakan rumus masing-masing indeks. Indeksproporsi yang dihitung adalah Indeks Kepala, Indeks Wajah, Indeks Telinga, Indeks Tinggi Bibir Atas terhadap Tinggi Bibir Bawah, Indeks Tinggi Bibir Atas terhadap lebar Mulut, Indeks Tinggi Columella terhadapProtrusi Ujung Hidung dan Indeks Nasal Indeks Intercanthal.

 AnalisaData

 Menghitung Nilai Rata-rata dan Simpangan Baku

Analisa dilakukan setelah dihitung rata-rata dan simpangan baku data hasil pengukuran dengan rumus rata-rata, rumus simpangan baku, rumus rata-rata gabungan dan rumus simpangan baku gabungan.

 Pengukuran terhadap nilai rata-rata dan simpangan baku data dengan menggunakan rumus:

 Rumus Rata-rata

 X=Lxi n

 Keterangan:

 L xi= Jumlah semua harga x yang ada pada kelompok tersebut.

n= jumlah sampel

X= rata-rata sampel

 Rumus Simpangan Baku

s2=

n L x i 2- (L xi) 2

—==—                           -==—–

n(n-1)

 Keterangan:

L xi = Jumlahsemua harga x yang ada pada kelompok tersebut.

S2= Simpangan baku n = Jumlah sampel

RumusUji. Kesamaan dua Rata-rata.

t =(XL- Xp) I S …J(1/nL + 1/nP)

dengan:

XL= rata-rata ukuran pada laki-laki

Xp= rata-rata ukuran pada perem- puan

S= simpangan baku gabungan nL= jumlah sampellaki-laki

np= jumlah sampel perempuan

 Tabel 2. Nilai Normal dan lndex Proporsi Ukuran Kepala Ras Mongoloid sub Ras Deuteromelayu

Ukuran Proporai dan JeniaKelamin

Uaia 4 tahun Uaia 5 tahun
Rata-rata Simpangan Baku Rata-rata Simpangan Baku
Ukuran LebarKepala (eu-eu)
Laki-laki 14,58

0,46

14,65

0,49

Perempuan 14,18

0,76

14,58

0,46

Ukuran Kepala
Laki-laki 16,25

0,62

16,41

0,72

Perempuan 16,11

0,61

16,19

0,59

Indeks Kepala (eu-eulx 100 (gp}
Laki-laki 89,73

3,29

89,45

5,33

Perempuan 88,10

5,41

90,21

4,58

 HASIL PENELITIAN

 Hasil penelitian terhadap ukuran antropometri wajah dan kepala 88 orang anak usia 4 dan 5 tahun di Kabupaten Bandung terlihat dalam tabel 4.1 (nilai normal dan indeks proporsi ukuran kepala), tabel 4.2 (nilai normal ukuran dan indeks proporsi ukuran wajah), tabel 4.3 (nilai normal dan indeks proporsi ukuran orbital), tabel 4.4 (nilai normal ukuran dan indeks proporsi ukuran hidung), tabel 4.5 (nilai normal ukuran dan indeks proporsi ukuran orolabial), tabel 4.6 (nilai normal ukuran dan indeks proporsi ukuran telinga). Total dilakukan pengukuran terhadap 26 variabel dan penghitungan 8 indeks proporsi berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan.

Tabel 3.  Nilai Normal  Ukuran dan lndeks Proporsi Ukuran Wajah Ras Mongoloid

 

Proponi dan Jenis Kelamin Ukuran
Usia 4 tahun Usia 5 tahun
Rata-rata Simpangan Baku Rata-rata Simpangan Baku
Ukuran Lebar Wajah -(zyzy)
Laki-laki 11,16 0,58 11,12 0,6
Perempuan 10,92 0,65 11,25 0,5
Ukuran Panjang Wajah (n-gnJ)
Laki-laki 8,2 0,54 8,42 0,37
Perempuan 8,22 1,16 8,25 0,37
Indeks Wajah (n-11111 X l00)
(•Y-•Y)
Laki-laki 73,62 5,77 75,83 4,41
Perempuan 75,24 9,06 90,21 4,58


Tabel 4.  NilaiNormal dan lndeks Proporsi Ukuran Orbital RasMongoloid Sub Ras Deuteromelayu

Ukuran Proponi dan Jenia Kelamin Usia 4 tahun Usia  5 tahun
Rata-rata Simpangan Baku Rata-rata Simpangan Baku
Ukuran Lebar lntercanthal (en-enJ
Laki-laki 2,77 0,15 2,7 0,21
Perempuan 2,67 0,14 2,64 1,74
Lebar Biocular (ex-ex}
Laki-laki 8,27 0,32 8,24 0,34
Perempuan 7,98 0,34 8,14 0,38
Indelcs Intercanthal (en-en} x 100 (ex-ex)
Laki-laki 33,51 2,27 32,81 2,22
Perempuan 33,5 1,91 32,45 3,6

 Tabel 5. Nilai Normal Ukuran dan lndeks  Proporsi Ukuran Hidung Ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu

Ukuran Proporai dan Jenla Kelamin

Usia4 tahun Usia 5 tahun
Rata-rata Simpangan Baku Rata-rata Slmpanpn Baku
Ukuran Lebar Hidung (al-al}
Laki-laki

2,72

0,15

2,75

0,17

Perempuan

2,66

0,21

2,76

0,18

Ukuran Tlnggi Hidung (n-snJ
Laki-laki 3,07

0,23

3,23

0,34

Perempuan 3,10

0,24

3,26

0,24

Ukuran Panjang Ujung Hidung (sn-pm}
Laki-laki 1,11

0,11

1,31

0,35

Perempuan 1,13

0,15

1,17

0,10

Ukuran Lebar Dasar Hidung (trif-mf)
Laki-laki 1,71

0,21

1,71

0,18

Perempuan 1,77

0,16

1,74

0,18

Ukuran Lebar Inserai Dasar Alar (a.c-ac}
Laki-laki 2,65

0,14

2,65

0,22

Perempuan 2,56

0,34

2,60

0,18

Ukuran Lebar Dasar Alar (sbal-sbalJ
Laki-laki 1,84

0,15

1,94

0,25

Perempuan 1,78

0,21

1,87

0,19

Ukuran Lebar Dasar Noatril(ldri} (sbal-•nJ
Laki-laki 0,67

0,10

0,66

0,09

Perempuan 0,63

0,11

0,66

0,08

Ukuran Tlnggi Columella (ldri} (sn-c’}
Laki-laki 0,62

0,07

0,60

0,09

Perempuan 0,59

0,09

0,63

0,09

Derajat Inklinaai Nasal Bridge
Laki-laki 58,89

7,35

57,65

5,50

Perempuan 57,07

5,70

60,67

6,11

Derajat Nasolabial

Laki-laki 87,08

13,18

86,89

9,92

Perempuan 88,32

7,73

89,50

8,37

Indeks Nasal lal-alJx 100 (n·•nJ
Laki-laki 89,10

7,80

85,82

9,32

Perempuan 85,90

7,26

85,06

9,22

Indeks Tlnggi Columella terluulap Protruai Ujung Hidung

£sn-c’l x 100 (sn-prnJ

Laki-laki 55,63

6,92

47,21

8,60

Perempuan 52,79

9,85

54,56

9,53

Tabel 6. NilaiNormal Ukuran dan Indeks Proporsi Ukuran Orolabtal Ras Mongoloid Sub Ras. Deuteromelayu

Ukuran Proporai dan Jenia Kelamin Usia 4 tahun Usia 5 tahun
Rata-rata Simpangan Baku Rata-rata Simpangan Baku
Ukuran Tlnggi Bibir Atas (sn-sto}
Laki-laki 2,08

0,18

2,04

0,18

Perempuan 2,08

0,28

2,08

0,16

Ukuran Tlnggi Dermis Bibir Atas(sn-ls}
Laki-laki 1,35

0,20

1,30

0,22

Perempuan 1,30

0,18

1,28

0,21

Ukuran Tlnggi Bibir Atas Lateral (sbal-ls’}
Laki-laki 1,31

0,14

1,32

0,17

Perempuan 1,30

0,23

1,24

0,12

Ukuran Tlnggi Vermillion Bibir Atas (ls-sto}
Laki-laki 0,74

0,09

0,78

0,15

Perempuan 0,79

0,18

0,81

0,14

Ukuran Tlnggi Vermillion Bibir Bawah (sto-lt}
Laki-laki 0,79

0,24

0,72

0,14

Perempuan 0,68

0,09

0,74

0,10

Ukuran Tlnggi Bibir Bawah (sto·slJ
Laki-laki 1,38

0,17

1,36

0,18

Perempuan 1,30

0,11

1,33

0,21

Ukuran Lebar Mulut (ch-ch}

Laki-laki 3,39

0,30

3,43

0,24

Perempuan 3,21

0,33

3,37

0,22

Derajat lnklincui Bibir Atas

Laki-laki 58,89

6,56

59,59

4,47

Perempuan 60,82

6,42

63,42

6,52

Indeks tinggi Bibir Atas.terhadap lebar Mulut fsn·stol x 100 (ch·chl

Laki-laki 61,81

7,54

59,79

7,84

Perempuan 65,57

11,36

61,99

5,76

Indeks Tinggi Bibir Atas terhadap Tinggi Bibir Bawah fato-slJ x 100 (sn-sto}
Laki-laki 66,69

9,65

67,21

11,12

Perempuan 63,10

8,31

64,22

11,45

 Tabel 7. Nilai Normal Ukuran dan lndeka Proporai Ukuran Telinga Ras Mongoloid Sub Ras Deuteromelayu

Ukuran Proporai dan Jenia Kelamin

Uaia 4 tahun Uaia 5 tabun
Rata-rata Simpangan Baku Rata-rataJ Simpangan Baku
Ukuran Lebar Telinga kfti(pra-paJ
Laki-laki

2,93

0,63

2,88

0,18

Perempuan

2,70

0,23

2,78

0,17

Ukuran tinggi Telinga kfti (sa-sbaJ
Laki-laki

4,86

0,27

5,07

0,29

Perempuan

4,58

0,57

4,96

0,26

Indeks Telinga (pra-pakc 100 (sa-sbaJ
Laki-laki 60,24

11,02

56,91

4,13

Perempuan 60,01

10,56

56,11

3,81

 Tabel 8. Perbandingan lndeks Proporsi antara Ras Mongoloid Sub Ras Deuteuro Melayu dengan Ras Kaukasoid

Jenia Kelamin/ Umur

Mongoloid

Sub RasDeuteromelayu

Kaukaaoid

Indeks Proporai Simp.Baku lndeka Proporai Simp. Baku

Indeks Kepala

Laki-laki 4 tahun

89,79

3,29

75,2

3,4

Perempuan 4 tahun

88,10

5,41

77,6

3,2

Laki-laki5 tahun

89,45

5,33

76,7

3,6

Perempuan 5 tahun

90,21

4,58

75,8

2,9

Indeks Wajah I                                                                                                                                                          
Laki-laki 4 tahun 73,62 5,77

87,6

4,2

Perempuan 4 tahun 75,24 9,06

86,9

4,9

Laki-laki5 tahun 75,83 4,41

86,7

3,6

Perempuan 5 tahun 73,65 4,15

88,3

4,8

Indeks  IntercClftthal

Laki-laki4 tahun 33,51 2,27

39,2

1,6

Perempuan 4 tahun 33,50 1,91

38,5

2,2

Laki-Jaki 5 tahun 32,81 2,22

39,2

2,0

Perempuan 5 tahun 32,45 3,60

38,5

2,6

Incleb Naaal

Laki-laki 4 tahun

89,10

7,80

72,1

5,3

Perempuan 4 tahun

85,90

7,26

73,6

4,8

Laki-laki 5 tahun

85,82

9,32

74,7

6,4

Perempuan 5 tahun

85,06

9,22

72,6

4,7

Indeks Tlnggi Columella terhadap Protruai Ujung Hidung
Laki-laki 4 tahun

55,63

6,92

53,7

7,1

Perempuan 4 tahun

52,79

9,85

54,7

5,2

Laki-laki 5 tahun

47,21

8,60

50,4

6,3

Perempuan 5 tahun

54,56

9,53

54,4

7,2

Indeks Tinggi Bibir ata.s terhadap Lebar Mulut
Laki-laki 4 tahun

61,81

7,54

50,2

4,8

Perempuan 4 tahun

65,57

11,36

49,4

4,8

Laki-laki 5 tahun

59,79

7,84

48,1

4,3

Perempuan 5 tahun

61,99

5,76

48,0

5,0

Indeks Tinggi Bfbir Atas terhadap Tinggi Bibir Bawah
Laki-laki 4 tahun

66,69

9,65

77,4

6,1

Perempuan 4 tahun

63,10

8,31

77,7

8,8

Laki-laki 5 tahun

67,21

11,12

78,3

5,9

Perempuan 5 tahun

64,22

11,45

80,5

7,3

Indeks Telinga

Laki-laki 4 tahun

60,24

11,02

65,8

4,0

Perempuan 4 tahun

60,01

10,56

63,5

3,9

Laki-laki 5 tahun

56,91

4,13

63,3

3,1

Perempuan 5 tahun

56,11

3,81

64,2

4,5

PEMBAHASAN

 Hasil penelitian ini menghasilkan 26 variabel nilai normal antropometri wajah dan kepala serta 8 indeks proporsi sebagai acuan penderita celah bibir dan langit-langit ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu laki-laki dan perempuan di Kabupaten Bandung yang berumur 4 dan 5 tahun.

Perbandingan antara indeks proporsi kepala ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu dan ras Kaukasoid yang diambil dari hasil penelitian Farkaz, menunjukkan bahwa pada perempuan dan laki-laki umur 4 dan 5 tahun, kepala ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu mesochepalic atau sedang, sedangkan kepala ras Kaukasoid adalah dolichochepalic atau agak memanjang.

Pada perbandingan indeks proporsi wajah, ras Kaukasoid menunjukkan tipe wajah memanjang sedangkan ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu tipe wajahnya sedang.

Pada indeks proporsi intercanthal, ras kaukasoid lebar mata yang lebih besar dibandingkan dengan ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu.

Pada indeks nasal tergambar bahwa ukuran hidung ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu lebih pendek dan atau lebih lebar dibandingkan dengan ras Kaukasoid. Perbedaan pada perempuan usia 4 tahun antara ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu dan ras Kaukasoid perbedaannya tidak sejauh kelompok perempuan 5 tahun, maupun laki-laki 4 dan 5 tahun. Perbandingan antara indeks proporsi tinggi columella terhadap protrusi ujung hidung didapat hasil pada rasKaukasoid dan ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu, tidak terdapat perbedaan yang terlalu nyata.

Pada indeks proporsi bibir atas terhadap lebar mulut, ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu memiliki mulut yang lebih lebar dibandingkan dengan ras Kaukasoid. Dari perbandingan indeks proporsi tinggi bibir atas terhadap tinggi bibir bawah,ras Mongoloid subras Deuteromelayu mempunyai bibir bawah yang lebih tebal, sedangkan bibir bawah ras Kaukasoid lebih tipis.

Perbandingan indeks proporsi telinga, telingaras Mongoloid subras Deuteromelayu lebih lebar dibandingkan dengan ras Kaukasoid.

Dengan adanya nilai normal pada ras mongoloid sub ras Deuteromelayu, maka keuntungan-keuntungan dalam penelitian mengenai celah bibir dan langit-langit adalah:

  1. Kesamaan dalam penilaian perubahan morfologi wajah sebelum dan sesudah operasi, berdasarkan penilaian kuantitatif.
  2. Mendapatkan suatu klasifikasi klinis yang baru untuk menilai suatu anomali dengan penilaian: ringan, sedang dan berat berdasarkan abnormalitas kuantitatif anatomis pada permukaan kulit dan skeletal wajah.
  3. Mendapatkan data yang terperinci untuk identifikasi dan penggambaran sindrom wajah.
  4. Membantu untuk memahami perkem­ bangan   wajah setelah operasi, terutamadeformitas hidung pada penderita celah bibir dan langit-langit

 Dari segi estetika, hal ini juga menjadi penting mengingat standar yang digunakan untuk menentukan estetik wajah harus ditentukan berdasarkan konsep estetika masing-masing ras, regional dan budaya .7

 Setelah dihitung dengan uji kesamaan dua rata-rata dengan menggunakan uji statistik, didapat hasil bahwa tidak ada perbedaan antara nilai normal antropometrik laki-laki dan perempuan ras mongoloid usia 4 dan usia 5. Bila di hubungkan dengan pola tumbuh kembang, tumbuh-kembang kraniofasial merupakan bagian dari tumbuh-kembang bagian tubuh lainnya dan merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Pada anak usia 4-5 tahun,kcranium telah mencapai 90% kranium dewasa. Pertumbuhan kraniofasial terbagi menjadi 3 daerah pertumbuhan, yaitu neurokranium, maksila dan mandibula. Bila kranium telah berkembang hingga 90% pada usia 5 tahun, maka dapat diduga bahwa konstribusi pertumbuhan kraniofasial setelah usia 5 tahun lebih banyak berasal dari pertumbuhan maksila dan mandibula.

Bila dihubungkan dengan percepatan pertumbuhan tinggi badan, maka antara usia 9 sampai dengan 13 tahun                                         terjadi percepatan pada anak perempuan sedangkan pada anak laki-­laki terjadi pada usia 11 sampai 15 tahun. Pada  anak laki-laki      terjadi akselerasi dua tahun lebih lama. Penelitian yang dilakukan di Indonesia mengenai pola tumbuh kembang tinggi badan anak,         mengungkapkan bahwa pada usia 6 tahun, anak laki-laki dan perempuan mempunyai tinggi badan yang hampir sama, namun usia 6-15 tahun tinggi badan anak perempuan terus meningkat dengan kecepatan yang hampir sama, sedangkan pada anak laki­ laki, dari usia 6-9 tahun peningkatan tinggi badan tidak sebanyak anak perempuan. Setelah usia 9 tahun, tinggi badan anak laki-laki meningkat dengan cepat hingga menyusul tinggi badan anak perempuan pada usia sekitar 12 tahun.s

Dengan mengasumsikan percepatan pertumbuhan anak laki-laki dan perempuan seperti yang dijelaskan di atas, maka dapat diduga bahwa pada usia 4-5 tahun percepatan pertumbuhan antara anak perempuan dan laki-laki adalah sama.

Persoalan yang terjadi selama masa rehabilitasi celah bibir dan langit-langit adalah unik. Perawatan yang diberikan harus dapat mengoreksi penampilan, fungsi bicara, pendengaran, pengunyahan serta penelanan. Perawatan yang diberikan harus dilakukan oleh tim yang terpadu yang terdiri dari dokter gigi spesialis bedah mulut, dokter pesialis bedah plastik, dokter gigi, dokter gigi spesialis gigi anak, dokter gigi spesialis orthodonti, dokter gigi spesialis prostodonti, dokter spesialis telinga hidung tenggorokan, dokter spesialis anak, ahli terapi bicara, psikolog atau dokter ahli psikiatri dan pekerja sosial. Jumlah ahli yang diperlukan menunjukkan tingkat keparahan yang dihadapi olehpasien. 9.lo

Adanya nilai normal dan indeks proporsi sebagai acuan akan dapat membantu upaya koreksi penderita celah bibir dan langit-langit yang dilakukan dengan mengevaluasi tingkat keparahan secara lebih detail sehingga dapat dilakukan koreksi pembedahan dengan lebih akurat. Nilai normal ukuran hidung dan ukuran orolabial dalam penelitian ini sangat detail. Pada ukuran hidung, diukur 10 pengukuran serta 2 indeks proporsi sedangkan pada ukuran hidung dilakukan 8 pengukuran serta 2 indeks proporsi.

Pengukuran yang dilakukan pada hidung adalah ukuran lebar hidung, tinggi hidung, protrusi ujunghidung, lebar dasar hidung, lebar insersi dasar alar, lebardasar alar, lebar dasar nostril, tinggi columella, derajat inklinasi nasal bridge serta derajat nasolabial. Indeks proporsi yang dihitung adalah indeks nasal dan indeks tinggi columella terhadap protrusi ujung hidung.

Pada orolabial dilakukan pengukuran tinggi bibir atas, tinggi dermis bibir atas, tinggi bibir atas lateral, tinggi vermillion bibir atas,tinggi vermillion bibir bawah, tinggi bibir bawah,lebar mulut, serta derajat inklinasi bibiratas. Indeks yang dihitung adalah indeks tinggi bibir atas terhadap lebar mulut dan indeks tinggi bibir atas terhadap tinggi bibir atas.

Perencanaan dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengevaluasi defek yang terjadi dan membandingkannya dengan nilai normal. Dengan adanya nilai normal yang sedemikian rinci akan mendukung perencanaan yang lebih baik.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pada beberapa ukuran antara kelompok Mongoloid dan Kaukasoid. Hal yang patut menjadi pertimbangan adalah perbedaan ras yang menyebabkan suatu ekspresi genetik yang berbeda.

Perbedaan ukuran antropometri wajah dan kepala pada kelompok Mongoloid sub ras Deuteromelayu dan Kaukasoid adalah bagian dari karakteristik genetik kelompok populasi yang secara genetik selama beratus hingga juta tahun membentuk karakteristik masing-masing berdasarkan isolasi geografis, sosial dan genetik.

KESIMPULAN

Dengan telah diketahui 26 variabel dan 8 indeks proporsi sebagai nilai normal antropometri wajah dan kepala untuk ras Mongoloid sub ras Deuteromelayu di Kabupaten Bandung, dimana hasil pengukuran anak laki-laki dan perempuan masing-masing kelompok umur sama tetapi berbeda dengan hasil pengukuran ras Kaukasoid, menguatkan pendapat bahwa setiap ras mempunyai karakteristik ukuran tersendiri dan oleh sebab itu, sebagai acuan nilai normal harus diambil dari ras yang sama.

 SARAN

  1. Penelitian ini adalah suatu penelitian pendahuluan dari penelitian lainnya dalam evaluasi pra dan post operasi celah bibir dan langit-langit, juga dalam usaha rekonstruksi deformitas sekunder, maka perlu dilakukan penelitian               sejenis yang lebih luas untuk kelompok umur lainnya agar dapat dijadikan sebagai acuan nilai normal bagi masing-masing kelompok umur.
  2. Dengan adanya nilai normal sebagai acuan bagi ras Mongoloid, dapat dilakukan berbagai penelitian lain untuk  evaluasi serta untuk menunjang perkembangan ilmu pengetahuan umumnya, khususnya ilmu bedah mulut.

 DAFTAR PUSTAKA

  1.  Farkas LG. Anthropometry of the face in cleft patients.Dalam: Multi diciplinary management of cleft lip and palate. Philadelphia: WB Saunders Co. 1990: 474-82
  2.  Evereklioglu C.etal.Craniofacial antrophometry in a Turkish population. The Cleft Palate- Craniofacial J. 2001, 39 (2): 208-18
  3.  Kondo S, Wakatsuki E, Shibagaki H. A Somatometric study ofthe head and face in Japaneseadolescence. Okajimas FoliaAnatomi Japan.Oct 1999, 76 (4): 179-85
  4. Porter JP,Olson KL. Anthropometric facial analysis of the African American woman. Arch Facial Plastic Surgery. 2001, 3 (3): 191-7
  5. Kolar JC,Salter EM.Craniofacial antropometry, practical measurement of the head and face for clinical, surgical andre searchuse. Illinois: Charles C.ThomasPubl Ltd.1997: 26-36; 39-194
  6.  Farkas LG. Antropometry of the head and face2nd ed. New York: Raven Press. 1994: 3-56, 71-8
  7. Bardach J. Antropometry in cleft lip and palate research. Dalam: Farkas LG. Antropometry of the head and face.2nd ed. New York:Raven Press. 1994: 113-8
  8. Soemantri ESS. Pengaruh waktu pembedahan pada tumbuh kembang kraniofasial penderita celah bibir dan langit-langit usia 6-18 tahun dengan metode sefalometri. Bandung: Program Pasca  Sarjana Univ.Padjadjaran. Disertasi. 2002
Share